Selasa, 24 September 2013

Makalah Mahasiswa 1


MEDIA GAMBAR, FOTO DAN SKETSA
(Diajukan guna memenuhi tugas Pengambanagn Media PAI)
Dosen Pengampu : Dr. Sukiman, M.Pd

Sisusun Oleh :
Ulvi Latifah (11411029)
Abu Rouf Nur R. (11411
M. Munawarrudin (11411


PAI V A
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2013



BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Media pendidikan adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim kepada penerima, sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, minat sehingga terjadi proses belajar. Media pendidikan menjadi salah perangkat pendidikan yang posisinya sebagai atat bantu dalam kegiatan pembelajaran di sekolah. Salah satu media pendidikan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah : media gambar, foto, dan sketsa. Media ini, dipieruntukkan kepada siswa dengan tujuan yaitu, membantu para dalam proses belajar mengajar (mempermudah peserta didik).
Gambar fotografi bisa diperoleh dari berbagai sumber, diantaranya ; buku-buku, majalah, koran, dan lain sebagainya. pada dasarnya gambar membantu mendorong para siswa dan dapat membangkitkan minatnya pada pelajaran. Gambar fotografi digunakan para siswa secara individual maupun secara kelompok. Selain itu, gambar fotografi dapat dipergunakan sebagai dasar studi untuk membuat laporn, dan resferensi sebuah penelitian.
Dalam mata pelajaran pendidikan agama islam, posisi media gambar, foto, dan sketsa sangatlah dibutuhkan. Seperti contoh : dalam materi sholat, wudlu, tayamum, dan ain sebagainya.

A.    Rumusan Masalah
1.    Apa Media Grafis itu ?
2.    Apa Jenis-jenis Media Grafis ?
3.    Apa Kelemahan dan Kelebihan Media Garafis ?
4.    Bagaimana Prinsip Pemakaian Gambar atau Fotografi ?

B.     Tujuan
1.    Untuk mengetahui media grafis.
2.    Untuk mengetahui jenis media grafis.
3.    Untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan media grafis.
4.    Untuk mengetahui prinsip pemakain gambar atau fotografi.




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Media Grafis
Webstermen definisikan grapics sebagai seni atau ilmu menggambar, terutama penggambaran mekanik. Dalam bahasa Yunani, graphikos mengandung pengertian nelukiskan atau menggambarkan garis-garis. Sebagai kata sifat, graphics diartikansebagai penjelasan yang hidup, uraian yang kuat, atau penyajian yang efektif. Berdaskan pengertian di atas, istilah media grafis dapat diartikan sebagai media visual yang berfungsi untuk menyalurkan pesan dari sumber ke penerima pesan melalui perpaduan antara pengungkapan kata-kata dan gambar. Pengungkapan itu bisa berbentuk gambar/foto, sketsa, bagan, grafik, poster dan sebagainya.[1]
Media grafis Saluran yang dipakai menyangkut indera pengelihatan. Pesan yang akan disampaikan dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi visual. Simbol-simbol tersebut perlu dipahami benar artinya agar proses penyampaian pesan dapat berhasil dan efisien. Selain fungsi umum tersebut, secara khusus grafis berfungsi pula untuk menarik perhatian, memparjelas sajian ide, mengilustrasikan atau menghisai fakta yang mungkin akan cepat akan dilupakan atau diabaikan bila tidak digrafiskan.
Banyak jenis media grafis, beberapa diantaranya akan dibicarakan dalam bahasan di bawah ini.
a.       Media Gamba/Foto
Gambar/foto merupakan salah satu media pembelajaran yang amat dikenal dalam setiap kegiatan pembelajaran. Hal ini disebabkan kesederhanaannya, tanpa memerlukan perlengkapan , dan tidak perlu diproyeksikan untuk mengamatinya ( Menurut Nana Sudjanadan Ahmad Rifai, 1997:71). Gambar/foto merupakan bahasa yang umum, yang dapat dimengarti dan dinikmati di mana-mana. Oleh karena itu, pepatah Cina mangatakan bahwa “sebuah gambar berbicara lebih banyak dari pada seribu kata”. Gamabr adalah tiruan barabg (orang, binatang) yang dibuat dengan coretan pensil dan sebagainya pada kertas/lainnya. Adapun foto adalah gambar barang (orang, binatang dan sebaginya) yang dibuat dengan alat pemotret/kamera. (Menurut Arief S.Sadiman,dkk, 2006 : 28).
Media gambar/foto memiliki sejumlah kelebihan dan kelemahan. Menurut Arief S. Sadiman, dkk. (2006:29) dan Nana Sudjana dan Ahmad Rifai (1997:72) diantara kelebihan media gambar/foto adalah : 1) bisa manyampaikan banyak pesan, sepaeti kata pepatah Cina diatas, 2) sifatnya kongkret dibanding dengan ungkapan verbal. 3) gambar dapat mengatasi batasan ruang dan waktu.
Tidak semua benda, objek, atau peristiwa dapat dibawa ke kelas, dan tidak selalu anak-anak dibawa ke objek/peristiwa tersebut. Gambar atau foto dapat mengatasi hal tersebut. Bangunan Ka’bah yang megah atau Masjid Agung Demak dapat disajikan ke kelas lewat gambar atau foto. Peristiwa-peristiwa yang terjadi dimasa lampau, kemarin atau bahkan semenit yang lalu kadang-kadang taj dapat kita lihat separti apa adanya. Gambar atau foto amat bermanfaat dalam hal ini.[2]
Materi pelajaran yang memerluakan visualisasi dalam bentuk ilustrasi yang dapat diperoleh dari sumber yang ada. Gambar-gambar dai majalah, booklet, brosur, selebaran, dan lain-lain mungkian dapat memenuhi kebutuhan kita. Jika pada saat ini belum memiliki clipping gambar, sebaiknya kita mengumpulkan gambar dari berbagai disiplin ilmu. Dari berbagai sumber tersebut diatas, daiharapkan tersedaia gambar sesuai isi pelajran. Daengan gabungan dari dua potongan gambar ayau lebih, kebutuhan akan gambar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran akan dapat terpenuhi.[3]


b.      Media Sketsa (Stick Figure)
Sketsa adalah gambar yang sederhana, atau draft kasar yang melukiskan bagan-bagan pokoknya tanpa detail. Karena setiap  orang yang normal dapat belajar menggambar, setiap guru yang baik haruslah dapat menuangkan ide-idenya kedalam bentuk sketsa. Sketsa, selain dapat menarik perhatian murid, mengindari verbalisme dan dapat memperjelas penyampaian pesan, harganya pun tak perlu dipersoalkan sebab media ini dibuat langsung oleh guru.
Sketsa sudah banyak dibicarakan orang lewat koran-koran atau pameran tertentu, sehingga bukan merupakan barang baru. Sketsa sudah merupakan tradisi sejak seni lukis ada. Seni sketsa adalah seni yang pertama lahir, kita dapat melihat lukisan-lukisan kuno yang terdapat di gua-gua Altamira di Perancis Selatan, demikian juga pada gua-gua Leang-lenag Sulawesi Selatan dan Gua Abba di Irian Barat merupakan garis sketsa yang magis. Pendapat ini diperkuat lagi dengan seorang kritikus terkenal Herbert Read yang mengatakan “Sesungguhnya dari libatan historis, jenis seni rupa yang pertama adalah jenis seni rupa dari gua-gua, bermula dari garis-garis kontur”. Seni rupa bertolak dari keinginan untuk menggaris-garis. Demikian juga yang terdapat pada anak-anak.
Seni rupa yang dibuat demi pemuasan pribadi seniman merupakan kesan dari karakterristik hidup dan gerak melalui media yang sangat sederhana, bahkan tanpa persiapan.Terdiri dari kertas dan semua jenis tinta hitam dengan alat-alat pena, kuas, bambu, lidi dan hasil-hasil industri, memungkinkan timbul bahan-bahan bru yang dapat mengembangkan seni sketsa.[4]
Bila kita amati terdapat garis-garis sketsa yang tegas dan jelas. Di Indonesia dapat kita lihat pada pelukis Affandi dan Sudjono bahkan seorang Affandi tak suka kehilangan sketsanya karena sangat beriwayat, mengandung makna vitalitas dan kegairahan. Namun sketsa pada masa dewasa ini tidak hanya dipakai para seniman ternama, guru turut nimbrung didalamnya. Sketsa dalam dunia pendidikan utamanya dalam proses penyampaian pesan digunakan sebagai media pembelajaran.
Seorang guru bisa saja menerangkan cara rukuk atau sujud, cara berbaris makmum ketika shalat berjamaah yang benar secara lisan atau verbal.  Kalau mau jelas tentu saja sebaiknya dengan langsung praktik, tetapi lebih dahulu ditunjukkan sketsa orang yang shalat rukuk atau sujud, barisan dalam shakat berjamaah, dan sebaginya. Mengapa tidak gambar ?[5]
Hal ini antara lain karena faktor kemampuan guru PAI yang mungkin kesulitan membuat gambar orang yang rukuk ataun sujud. Sketsa dapat dibuat secara cepat semantara guru menarrangkan dapat pula dipakai untuk tujuan tersebut.
Contoh lain penggunaa media sketsa ini dalam pembelajaran PAI adalah dalam pembelajaran Fiqh Ibadah dengan materi bahasan tentang pemeliharaan jenazah, terkait dengan tata cara mengkafani jenazah, menyalatkan dan menguburkan. Ketika guru menjelasakan tata cara mengkafani guru bisa menggunakan media sketsa ini, demikian juga ketika menjelasakan tentang tata cara menyalatkan., dan menguburkan jenazah. Demikian juga, ketika guru PAI menjelaskan tentang posisi rukun islam digambarkan dengan sketsa rumah. Syahadat diibaratkan sebagai fondasi, shalat dengan tiang, puasa sebagai dinding, zakat dengan pintu dan haji dengan atap. Diatas adalah beberapa contoh media sketsa untuk pembelajaran PAI.[6]

B.     Keuntungan Dan Kelemahan Gambar Fotografi
Ada keuntungan yang dapat diperoleh dari gambar fotografi dalam hubungannya dengan pengajaran :
a.       Mudah dimanfaatkan didalam kegiatan belajar mengajar, karena praktis tanpa memerlukan perlengkapan apa-apa.
b.      Harganya relatif lebih murah daripada jenis-jenis media pengajaran lainnya dan caranya mudah tanpa mengeluarkan biaya yang besar. Seperti contohnya : kalender bekas, surat kabar, dan lain-lainnya.
c.       Gambar fotografi bisa digunakan untuk berbagai jenjang pendidikan dan berbagai disiplin ilmu.  Dari ilmu sosial sampai dengan ilmu eksata.
d.      Gambar fotografi dapat menerjemahkan konsep atau gagasan yang abstrak menjadi lebih realistik.
Sekalipun demikian media pengajaran juga mempunya beberapa kelemahan, diantaranya :
a.       Gambar sudah cukup memadai akan tetapi tidak cukup besar ukurannya apabila dipergunakan untuk tujuan pengajaran kelompok besar, kecuali jika disajikan melalui proyektor.
b.      Gambar fotografi adalah berdimensi dua, sehingga sukar untuk melukiskan bentuk sebenarnya yang berdimensi tiga. Kecuali dengan pengambilan yang tidak hanya dari satu sudut saja.
c.       Gambar fotografi bagaimanapun indahnnya tetap tidak memperlihatkan gerak seperti halnya gambar hidup. Namun demikian, beberapa gambar fotografi seri yang disusun secara berurutan dapat memberikan kesan gerak, dengan maksud guna meningkatkan daya efektivitas proses belajar-mengajar.[7]

C.    Prinsip-Prinsip Pemakaian Gambar Fotografi
Beberapa prinsip gambar fotografi sebagai media visual :
a.       Pergunakanlah gambar untuk tujuan-tujuan pelajaran yang spesifik, yaitu dengan cara memlilih gambar tertentu yang akan mendukung penjelasan inti pelajaran atau pokok-pokok pelajaran.
b.      Padukan gambar-gambar kepada pelajaran, karena kefektifan pemakai gambar-gambar otografi didalam proses beajar mengajar memerlukan keterpaduan.
c.       Pergunakanlah gambar-gambar itu sedikit saja, daripada mempergunakan banyak gambar tetapi tidak efektif.
d.      Kurangi penambahan kata-kata pada gambar, oleh karena gambar-gambar itu justru sangat penting dalam mengembangkan kata-kata atau cerita, atau dalam menyajikan gagasan baru.
e.       Mendorong pernyataan yang kreatif, melalui gambar-gambar para siswa akan didorong untuk mengembangkan keterampilan berbahasa lisan atau tulisan, seni grafis, dan bentuk kegiatan lainnya.
f.       Mengevaluasi kemajuan kelas, bisa juga dengan memanfaatkan gambar-gambar baik secara umum maupun secara khusus.[8]

D.    Gambar/Foto yang Baik Sebagai Media Pendidikan
1.      Autentik
Gambar tersebut harus secara jujur melukiskan situasi seperti kalau oarng melihat yang sebenarnya.
2.      Sederhana
Komposisi gambar hendaknya cukup jelas menunjukkan poin-poin pokok dalam gambar.
3.      Ukuran Relatif
Gambar/foto guna memperbesar atau memperkecil objek/benda sebenarnya. Apabila gambar/foto tersebuat tentang benda atau objek yang belum dikenal atau pernah dilihat anak meka sulitlah membayangkan barapa besar benda atau obyek tersebut. Untuk menggambarkan itu hendaknya dalam foto/gambar terdapat sesuatu yang dikenal anak-anak sehingga dapat membantunya membayangkan gambar.
4.      Gambar/foto sebaiknya mengandung gerak atau perbuatan. Gambar yang baik tidaklah menunjukkan objek dalam keadaan diam tetapi memperlihatkan aktivitas tertentu.
5.      Gambar yang bagus belum tentu baik untuk mencapai tujuan pembelajaran. Walaupun dari segi mutu kuarng, gambar/foto karya siswa sendiri sering kali lebih baik.
6.      Tidak setiap gambar yang bagus merupakan media yang bagus. Sebagai media yang baik, gambar hendaklah bagus dari sudut seni dan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.[9]


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Webstermen definisikan grapics sebagai seni atau ilmu menggambar, terutama penggambaran mekanik. Dalam bahasa Yunani, graphikos mengandung pengertian nelukiskan atau menggambarkan garis-garis
Banyak jenis media grafis, beberapa diantaranya akan dibicarakan dalam bahasan di bawah ini.
a.       Media Gamba/Foto
Oleh karena itu, pepatah Cina mangatakan bahwa “sebuah gambar berbicara lebih banyak dari pada seribu kata”.
b.      Media Sketsa (Stick Figure)
Sketsa adalah gambar yang sederhana, atau draft kasar yang melukiskan bagan-bagan pokoknya tanpa detail.
Keuntungan Dan Kelemahan Gambar Fotografi
a.       Mudah dimanfaatkan didalam kegiatan belajar mengajar, karena praktis tanpa memerlukan perlengkapan apa-apa.
b.      Gambar fotografi bagaimanapun indahnnya tetap tidak memperlihatkan gerak seperti halnya gambar hidup.

 


Daftar Pustaka

Prof. Dr Azar Arsyad, Media Pembelajaran. Jakarta :Rajawali Press, 2011
Dr. Arief S. Sudiman, M. Sc. dkk. Media Pendidikan (Pengartian,                          Pengembagaan, dan Pemanfaatnanya). Jakarta : Rajawali Press, 2010.
Dr Sukiman M.Pd. Pengembangan Media Pembelajaran, Yogyakarta : Pedagogia                2012
Dr. Nana Sudjana & Drs. Ahmad Rifai, Media pembelajaran,Jakarta: Sinar Baru Algensindo,, 2009


[1] Sukiman, Dr. M.Pd. Pengembangan Media Pembelajaran, halm. 86.
[2] Sukiman, Dr. M.Pd. Pengembagan Media Pembelajaran, halm. 88.
[3] Azhar Arsyad,Prof. Dr.  Media Pembelajaran, Halm. 114.
[4] Ibid. hal. 88-89.
[5] Ibid. halm. 90-91.
[6] Ibid. halm. 90
[7] Nana Sudjana dan Ahmad Rifa’i, Media Pembelajaran, (Bandung : Sinar Baru Algensindo) hal 71 - 72
[8] Nana Sudjana dan Ahmad Rifa’i, Media Pembelajaran, (Bandung : Sinar Baru Algensindo) hal 76 - 77
[9] Arief S. Sadiman, Dr. M. Sc. R. Rahardjo, Drs. M. Sc dkk. Media Pendiikan (Pengertian, Pengembangan, dan Pemanfaatanya), halm. 31-33.

1 komentar:

Nazzhao Abarokah mengatakan...

Dalam penyampaian makalah hanya kurang melibatkan peserta.
Makalah penulisan footnote atau daftar pustakanya diperbaiki.
Trims,,,, kalian luar biasa.. ;-)