Rabu, 15 Februari 2012

LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN KBK

1.          Langkah-Langkah Penyusunan KBK
Kegiatan penyusunan kurikulum perlu ditempuh melalui langkah-langkah tertentu secara sistematis sehingga dapat dihasilkan kurikulum yang baik. KBK merupakan suatu model kurikulum yang penyusunannya berpijak dan berorientasi pada pengembangan kompetensi-kompetensi tertentu yang diharapkan dapat dikuasai oleh peserta didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. Penyusunan KBK memiliki prosedur atau langkah-langkah yang berbeda dengan kurikulum yang berbasis materi. Penyusunan kurikulum berbasis materi lebih didasarkan pada sistematisasi disiplin ilmu masing-masing. Prosesnya dilakukan dengan cara menetapkan lebih dahulu mata pelajaran/mata kuliah apa yang harus dipelajari peserta didik, yang diperlukan untuk persiapan pengembangan disiplin ilmu. Sedangkan penyusunan KBK bertolak dari analisis kompetensi yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas tertentu. Materi yang diajarkan, kriteria evaluasi sukses, dan strategi belajarnya ditetapkan sesuai dengan analisis tugas (job analysis) tersebut.[1] Menurut Waridjan, dkk., prosedur penyusunan KBK adalah sebagai berikut:[2]
a.       Mengidentifikasi kompetensi lulusan, yaitu menetapkan dan mendeskripsikan ciri-ciri jenis dan mutu kompetensi yang harus dimiliki seseorang untuk mampu melaksanakan tugas-tugas dalam bidang pekerjaan tertentu atau melaksanakan tugas melanjutkan pendidikan. Menurut Arief Furchan dkk., pengidentifikasian dan penetapan kompetensi ini hendaknya didasarkan pada analisis kebutuhan dari masyarakat pengguna dan profesi (stakeholders) mengenai kompetensi-kompetensi yang diperlukan untuk lulusannya. Kompetensi-kompetensi tersebut hendaknya merupakan core competencies yang harus dikuasai oleh lulusan yang sekaligus dapat memenuhi standar internasional untuk mengantisipasi globalisasi. Karena itu dianjurkan untuk mencari informasi tentang kompetensi yang dibutuhkan untuk program studi serupa di PT luar negeri, karena kemungkinan mereka telah melakukan hal serupa jauh lebih awal dari Indonesia.[3]   
b.      Menjabarkan kompetensi lulusan, yakni menjabarkan kompetensi lulusan menjadi rumusan kompetensi yang lebih operasional meliputi standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator kompetensi.
c.       Menyusun pengalaman belajar, yaitu menyediakan pengalaman-pengalaman belajar yang diperlukan peserta didik untuk dapat melaksanakan langkah-langkah tugas yang disebutkan pada poin b.
d.     Menetapkan topik dan subtopik, yaitu mengidentifikasi pokok bahasan dan subpokok bahasan sebagai isi atau persoalan-persoalan yang dibahas untuk memperoleh pengalaman-pengalaman belajar yang disebutkan pada poin c.
e.     Menetapkan alokasi waktu yang diperlukan untuk mempelajari tiap topik dan subtopik dengan mengingat apakah sesuatu topik atau subtopik dipelajari melalui tatap muka, praktikum atau kerja lapangan.
f.      Memberi nama mata pelajaran/mata kuliah dengan cara mengorganisasikan terlebih dahulu topik-topik atau sub topik-sub topik yang relevan satu sama lain menjadi satuan-satuan bahan pembelajaran. Kemudian dengan memperhatikan isi topik-topik atau sub topik-sub topik yang sudah menjadi satuan bahan pengajaran itu, diberi nama mata pelajaran/mata kuliah yang sesuai.
g.     Menetapkan bobot SKS sesuatu mata pelajaran/ mata kuliah dengan dasar jumlah jam yang diperlukan peserta didik untuk mempelajari semua topik dan sub topik dari sesuatu mata pelajaran/mata kuliah. Dalam menetapkan bobot SKS hendaknya tidak dilupakan perbandingan harga waktu antara tatap muka, praktikum, dan kerja lapangan.


[1] Noeng Muhadjir, Ilmu Pendidikan dan Perubahan Sosial: Teori Pendidikan Pelaku Sosial Kreatif, Edisi V, cet. ke-2  (Yogyakarta: Rake Sarasin, 2003), hlm. 78.
[2] Waridjan, et.al., Pengembangan Kurikulum dan Sistem Instruksional (Jakarta: Proyek Pengembangan LPTK Dirjen Dikti Depdikbud, 1984), hlm.13-14.
[3] Arief Furchan, Muhaimin, dan Agus Maimun, Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi, hlm.64.

Tidak ada komentar: