Kamis, 22 Desember 2011

Pengertian dan Karakteristik KBK

PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI (KBK)
Kata kompetensi yang dalam bahasa Inggrisnya competency berarti kecakapan atau kemampuan.[1] Secara istilah kompetensi adalah perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.[2] Arief Furchan, dkk., menyatakan kompetensi adalah seperangkat tindakan inteligen penuh tanggungjawab yang harus dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu melaksanakan tugas‑tugas dalam bidang pekerjaan.[3] Senada dengan ini menurut SK Mendiknas Nomor 045/U/2002, kompetensi diartikan sebagai seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggung jawab yang dimiliki seorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu. Menurut Mc. Ashan sebagaimana yang dikutip Mulyasa mengemukakan bahwa kompetensi: “... is a knowledge, skills, and abilities or capabilities that a person achieves, which become part of his or her being to the exent he or she can satisfactorily perform particular cognitive, afective, and psychomotor behaviors”.[4] Dalam hal ini, kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kompetensi pada hakekatnya merupakan seperangkat kemampuan yang berupa pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang dikuasai seorang sehingga mampu dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu. Menurut Anik Ghufron, seperangkat kemampuan tersebut haruslah menggambarkan sebuah profil yang utuh, measurable, dan observable.[5]
Berdasarkan pengertian kurikulum dan kompetensi di atas, dapat dirumuskan bahwa yang dimaksud dengan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai seperangkat kemampuan yang harus dikuasai peserta didik (siswa/mahasiswa), kegiatan belajar mengajar, dan penilaian sebagai panduan pelaksanaan kegiatan pembelajaran. KBK adalah kurikulum yang diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap, dan minat peserta didik, agar dapat melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran, ketepatan, dan keberhasilan dengan penuh tanggung jawab. Pengertian ini sejalan dengan yang dikemukakan Anik Ghufron yang menyatakan bahwa KBK adalah suatu rencana dan pengaturan mengenai seperangkat kemampuan yang harus dipelajari, dikuasai, dan ditampilkan peserta didik dan cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar.[6]
KBK memiliki sejumlah karakteristik. Menurut Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas karakteristik KBK adalah: [7] 
a)    Menekankan pada ketercapaian kompetensi peserta didik baik secara individual maupun klasikal.
b)   Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.
c)   Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.
d) Sumber belajar bukan hanya guru/pendidik, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.
e)  Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.



[1] John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: Gramedia, 1992), hlm.7.
[2] Depdiknas, Kurikulum Berbasis Kompetensi, hlm. 1.
[3] Arief Furchan, Muhaimin, dan Agus Maimun, Kurikulum Berbasis Kompetensi Di Perguruan Tinggi Agama Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm. 37.
[4] E. Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep, Karakteristik, dan Implementasi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), hlm. 38.
[5] Anik Ghufron, ”Kurikulum Berbasis Kompetensi: Kajian Kritis terhadap Implementasi dan Implikasinya”, dalam Fondasia, Majalah Ilmiah Fondasi Pendidikan Vol. !, No. 3 Tahun 2003, (Yogyakarta: Laboratorium FSP Fakultas Ilmu Pendidikan UNY, 2003), hlm. 2.
[6] Ibid.
[7] Depdiknas, Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Kompetensi, (Jakarta: Pusat Kurikulum Balitbang, 2002), hlm. 2.


Tidak ada komentar: