Selasa, 27 Desember 2011

Landasan Filosofis dalam Pengembangan KBK

LANDASAN FILOSOFIS

Landasan filosofis yang dimaksudkan adalah pentingnya filsafat dalam mengembangkan kurikulum lembaga pendidikan.[1] Pendidikan berintikan interaksi antar manusia, terutama antara pendidik dan peseta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam interaksi tersebut banyak persoalan-persoalan yang bersifat mendasar, seperti apakah yang menjadi tujuan pendidikan, siapa pendidik dan peseta didik, apa isi pendidikan, dan bagaimana proses interaksi pendidikan tersebut, yang pertanyaan‑pertanyaan tersebut membutuhkan jawaban yang mendasar, yang esensial yaitu jawaban‑jawaban filosofis.
Istilah filsafat berasal dari kata-kata philein yang berarti cinta atau suka sekali akan sesuatu. Kata shopia berarti kebajikan atau kebijaksanaan. Dengan demikian jelas bahwa orang yang mempelajari filsafat diharapkan akan menjadi orang bijaksana dalam tingkah laku dan perbuataannya.[2] Orang belajar berfilsafat agar ia menjadi orang yang mengerti dan berbuat secara bijak. Untuk dapat mengerti kebijakan dan berbuat secara bijak, ia harus tahu atau berpengetahuan. Pengetahuan tersebut diperoleh melalui proses berpikir, yaitu berpikir secara sistematis, logis, dan mendalam. Pemikiran demikian dalam filsafat sering disebut sebagai pemikiran radikal, atau berpikir sampai ke akar‑akarnya (radic berarti akar).[3] Imam Barnadib menyatakan bahwa, filsafat merupakan cara berpikir yang radikal dan menyeluruh, suatu cara berpikir yang mengupas sesuatu sedalam-dalamnya. Filsafat berupaya untuk menggambarkan dan menyatakan suatu pandangan secara komprehensif tentang alam semesta dan kedudukan manusia di dalamnya.[4]
Filsafat merupakan suatu sistem yang dapat menentukan arah hidup serta menggambarkan nilai-nilai apa yang paling dihargai dalam hidup seseorang. Proses pentingnya mendidik anak agar menjadi manusia yang baik pada hakekatnya ditentukan oleh nilai-nilai, cita-cita atau filsafat yang dianut negara, juga pendidik, orang tua, masyarakat bahkan dunia.[5] Perbedaan filsafat yang dianut dengan sendirinya akan menimbulkan perbedaan dalam tujuan pendidikan, bahkan pelajaran yang disajikan, mungkin juga cara mengajar dan penilaiannya. Pendidikan di negara otokratis berbeda dengan negara yang demokratis, pendidikan di negara muslim akan berlainan dengan pendidikan di negara nonmuslim.
Di Indonesia landasan filosofisnya adalah Pancasila yang diakui dan diterima sebagai falsafah dan pandangan hidup (way of life) serta pedoman hidup  bangsa dan masyarakat Indonesia. Pancasila dipergunakan sebagai petunjuk arah semua kegiatan dan aktifitas hidup dan kehidupan bangsa dan masyarakat Indonesia di segala bidang. [6] Ini berarti bahwa, semua tingkah laku dan tindak perbuatan setiap manusia Indonesia harus dijiwai dan merupakan pancaran dari semua sila Pancasila. Pancasila sebagai norma fundamental, maka Pancasila berfungsi sebagai cita-cita atau idea yang sudah semestinya kalau ia selalu diusahakan untuk dicapai oleh tiap-tiap manusia Indonesia.
Pendidikan di Indonesia, sebagai upaya sadar untuk membina manusia tidak bisa melepaskan diri dari pandangan dan cara hidup manusia Indonesia, yakni manusia pancasila. Oleh karena itu, pendidikan di Indonesia harus dikembangkan dengan berdasar dan berorientasi pada filsafat Pancasila. Ini berarti bahwa, pendidikan di Indonesia harus dikembangkan berlandasan pada filsafat Pancasila dan arah serta tujuannya  mampu membawa anak didik menjadi manusia Pancasila. Hal ini dipertegas dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pada Bab II Pasal 2 disebutkan ”Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945”.[7]


[1] Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah,  Bandung: Sinar Baru Al-Gesindo, 1996, hlm. 10.
[2] Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan (Yogyakarta: Adicita Karya Nusa, 2002), hlm. 4.   
[3] Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum,  Bandung: Remaja Rosdakarya, 1997, hlm. 39.
[4] Imam Barnadib, Filsafat Pendidikan, hlm. 3.
[5] Oemar Hamalik, Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007), hlm. 60.
[6] Darji Darmodiharjo, ”Orientasi Singkat Pancasila” dalam Darji Darmodiharjo, dkk., Santiaji Pancasila (Surabaya: Usaha Nasional, 1979), hlm. 16.
[7] Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dan Penjelasannya (Yogyakarta: Media Wacana, 2003),  hlm. 12.

Tidak ada komentar: